DI SEPANJANG PANTAI ALGAVRE
Keputusan kami untuk menelusuri pantai Algavre di Portugis sebelah Selatan sebenarnya merupakan keputusan yang mendadak. Berawal dari rasa ingin tahu, berhubung sebagai warga Indonesia, saya penasaran dengan negara yang pernah melarang pemegang paspor RI masuk ke wilayahnya hingga tahun 2002 lalu. Kebetulan kami tengah berada di kota kecil di dekat Cadiz di Spanyol, hanya 219 kilometer lagi hingga menuju ke perbatasan Portugal.
Ketika itu di bulan Agustus, cuaca panas, temperatur tinggi hingga mencapai 40 derajat celcius. Perjalanan menelusuri jalan tol A 49 ke arah Timur berjalan lancar, jalanan sepi, dan mulus dan angin bertiup kencang menerpa wajah dari jendela mobil yang sengaja kami buka. Dua kota penting di perbatasan Spanyol-Portugal yang kami lewati, yaitu Huelva dan Ayamonte. Huelva terkenal denga cagar alam Donyana yang seluas 188 000 hektar dan menyimpan ratusan jenis burung di dalamnya, di kota ini pula Colombus berangkat meninggalkan Eropa untuk menemukan benua Amerika. Kota Ayamonte terletak tepat di tepi kanal yang memisahkan Spanyol dengan Portugal, kota ini sangat khas kota pelabuhan, dengan rumah-rumah tua yang tinggi, dermaga-dermaga kecil di tepian kanal dan perahu yang berlalu-lalang antara Spanyol dan Portugal. Dari Ayamonte, kita dapat melihat kehidupan di kota Vila Real de santo Antonio di Portugal yang letaknya berseberangan dengan Ayamonte. Sebetulnya ada dua kemungkinan menuju Portugis dari Spanyol, dengan jalan darat melalui jalan tol A49, atau naik Ferry dari Ayamonte. Berhubung kami ingin segera tiba di Portugis, kami memilih jalan tol yang lebih cepat.
Tujuan utama kami adalah kota-kota kecil di sepanjang pantai Algavre, pantai yang memanjang dari ujung barat ke ujung Timur di Selatan Portugis, yang terkenal sebagai wilayah sasaran turis paling populer. Kota paling Timur di pantai Algavre adalah Tavira, kota kecil yang lebih dikenal karena adanya cagar alam yang besar yang menyaingi cagar alam di Huelva di Spanyol. Sepintas tidak ada beda besar antara Portugis dengan Spanyol, bahasa mereka mirip satu dengan lain, bangunan-bangunannya pun mirip, jalanan di Portugis pada bulan Agustus tampak lebih gersang dari di Spanyol dan banyak rumah-rumah bercat warna putih bagaikan rumah-rumah di Spanyol Selatan. Dari Tavira perjalanan dilanjutkan ke Faro, kota yang lebih besar di mana terdapat kota yang modern, bangunan-bangunan apartemen bertingkat, hotel berbintang, pelabuhan modern. Faro adalah salah satu kota pantai tempat di mana orang tinggal, bekerja, namun juga tempat turis berlibur untuk menikmati keindahan pantai Algavre. Lebih ke arah timur, kota Albufeira menawarkan obyek wisata yang lebih menarik, kota ini bukan kota Industri seperti Faro, tetapi lebih mengarah ke kota pantai untuk berlibur. Namun kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Portimao, kota nelayan yang terletak tidak jauh dari Lagos, dan sudah mengarah lebih ke arah Barat dari ujung pantai Algavre.
Portimao, membuat saya jatuh cinta.
Portimao adalah kota nelayan terbesar di sebelah barat pantai Algavre, atau dikenal juga dengan nama Barlavento dan semenjak dulu memiliki hubungan yang kuat dengan lautan dan sungai Arade. Pantai ini tidak hanya menyajikan pemandangan yang luar biasa bagusnya, tetapi juga semenjak ratusan tahun menjadi pelabuhan yang nyaman bagi pelaut-pelaut dari seluruh Mediterania. Bangsa Yunani dan Cartaginia, konon, secara teratur mengunjungi pantai Algavre dan meninggalkan tanda-tanda atas kehadiran mereka di sini,berupa pengaruh arsitektur, makanan dan gaya hidup. Sangatlah menarik untuk memulai perjalanan kita dari Portimao dengan menjelajahi wilayah bagian bersejarah di kota itu tempat rumah-rumah dengan gaya facade art-noveau berjejer. Jalanan seperti Rua Nova, Rua do Postigo dos Fumeiros dan Rua do Capote atau sebuah lapangan yang disebut dengan Largo da Barca, bisa dinikmati di kota tua Portimao. Pada bulan Agustus yang panas, tepat paling hijau dan nyaman untuk sekedar berleha-leha melepas lelah adalah taman the Viscount of Bivar Gardens atau di lapangan Manuel Teixeira Gomes Square. Nama lapangan tempat kaum muda berkongkow ini diambil dari nama seorang penulis Portugis, yang kemudian menjadi presiden Portugis. Selain itu, ada taman bernama The 1st of December, yang terletak di dekat kantor walikota yang lama, memiliki pagar yang dihiasi porselen berwarna biru dan putih yang merupakan tipikal warna porselen di Portugis.
Kami pergi menuju bagian khusus pejalan kaki, yang dihiasi oleh cafe di sepanjang jalan, dan toko-toko yang berjejer memanjang di sepanjang sungai. Toko-toko modern tampak berdiri berdampingan dengan toko-toko tradisional, yang menjual kerajinan tangan, khususnya topi, keranjang anyaman, tikar, taplak meja bordiran, keramik, gelas-gelas yang diwarnai dan aneka porselen. Tidak jauh, ada pelabuhan cantik, yang memiliki wilayah pertokoannya yang megah, dan tampak puluhan perahu yachts dan perahu motor boat dari seluruh duania ditambatkan di pelabuhan. Setelah itu, kami pun tiba di tepian pantai dengan pasir yang putih, Praria de Rocha. Ini adalah salah satu pantai tercantik di Eropa. Pada malam hari, promenade di sekitar pantai berubah menjadi daerah yang menyajikan kehidupan malam yang meriah hingga dini hari. Panggung-panggung terbuka menyajikan pertunjukan musik tradisional, stand-stand penjual souvenir dan makanan, dan turis yang tumpah memenuhi promenade adalah pemandangan yg umum di kota di tepi pantai Algavre ini.
Jika kita melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai hingga melewati batu.batu karang, kita akan tiba di pantai berwarna emas dengan air yang tenang, dan lalu kita tiba di Alvor. Alvor adalah kota nelayan tua yang berdiri pada jaman penjajahan Roma dan bangsa Arab di Portugis. Kota ini sekarang menjadi salah satu daerah turis terbesar di pantai Algavre. Di sini juga terdapat cagar alam yangmelindungi berbagai jenis burung langka. Selain itu juga ada reruntuhan puing Istana Alcalar, yang terletak di dekat Abicada, kota bergaya Romawi yang telah berusia ratusan tahun
Tidak jauh dari Portimao, juga ada Mexilhoeira Grande, sebuah desa cantik yang sangat ideal bagi pecinta gastronomi, karena di sini, kita dapat menikmati masakan khas Algavre. Rumah makan-rumah makan di desa kecil ini terkenal dengan makanan tradisional setempat, seperti, ikan goreng yang disajikan dengan kacang kapri, jagung dan sosis. Atau kerang panggang, sup ayam kacang kapri dan yang tidak kalah lezat, ervillas a portimonese sejenis sayur kacang kapri yang dimasak a la Portimao. ikan sarden panggang di atas api arang, gurita, sup udang da nasi. Sebagai minumannya, ine Lokal merupakan pendamping paling ideal, rasanya manis seperti buah anggur asli karena pengaruh matahari yang panas yang membuat anggur di Portamao lebih hangat dan cepat matang.
Dalam perjalanan pulang meninggalkan Portugal, kami mampir sebentar di lagos, berdiri di puncak bukit karang di tepi pantai, memandang ke kejauhan guna mencari ujung daratan Portugis yang merupakan akhir dari benua Eropa di sebelah Barat. Lalu perjalanan menelusuri jalan tol menuju ke arah Spanyol, tempat kami mengawali perjalanan. Kali ini kami memilih menelusuri jalanan kecil yang dekat ke pantai, dan berakhir di Villa del Real de Santo Antonio, kota kecil di tepian kanal yg tepat membelah Portugis dengan Spanyol. Dari Villa Real de Santo Antonio, kami memilih menaiki kapal ferry dan memarkir mobil di anjungan bawah kapal, bersama-sama dengan puluhan mobil lain. Berdiri di atas Ferry yang bergerak menyeberang menuju Ayamonte, kami dapat melihat perlahan namun pasti, daratan Portugis menjauh, demikian juga garis biru jernih yang adalah pantai Algavre.






















Jika kita kembali ke jantung kota tua Munich di Marienplatz lalu bergerak ke arah Utara, kita akan bertemu lapangan unik lainnya, yaitu, Odeonplatz. Di lapangan ini, ada Monumen besar lengkap dengan dua patung Singa berukuran raksasa. Tidak jauh dari Odeonplatz, ada taman cantik bernama Hofgarten yang dibangun pada abad ke17. Taman ini dibangun dengan pengaruh inspirasi dari gaya Renasaisance Italia atas perintah penguasa setempat bernama Duke Maximillian I. Keunikan taman ini jika dilihat dari atas, akan tampak pembagian taman dengan bentuk kotak-kotak dan sudut tajam dengan berbagai ukuran. Tepat di bagian tengahnya, dibangun monumen berkubah bundar yang memiliki hiasan berupa ornamen berwarna emas dan warna-warna cerah. Monumen itu sendiri berbentuk segi delapan atau Octagonal, dan di puncak kubahnya yang bundar terdapat mahkota berwarna emas. Pada hari-hari yang cerah, bisa kita lihat adanya pengamen memainkan musik klasik atau pun jenis musik opera tepat di ruang bawah monumen itu. Terakhir kali saya melewati taman Hofgarten, saya melihat seorang pengamen mengenakan kostum berupa pakaian tuxedo, dan menyanyi membawakan lagu jenis seriosa dalam bahasa Itali. Suaranya yang keras lantang, terdengar hingga ke seluruh penjuru taman, membuat kesan yang sangat indah bagi pengunjung Hofgarten. Tidak jauh dari Hofgarten,juga terdapat galeri-galeri seni serta cafe. Konon, petenis Boris Becker sering melewatkan sore di cafe di Hofgarten ini sambil bercakap-cakap dengan rekan-rekannya...

Museum Etnologi Munich yang terletak di jalan Maximillianstrasse ini, adalah Museum Etnologi kedua terbesar di Jerman, setelah museum serupa yang berada di kota Berlin. Sesuai dengan namanya, museum ini merupakan tempat dikumpulkannya berbagai koleksi kebudayaan yang berasal dari berbagai etnik dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Pada mulanya, berbagai koleksi yang ada di museum ini merupakan harta karun dari raja-raja Bavaria, Jerman Selatan. Harta karun itu sebagian besar merupakan pemberian hadiah dari para bangsawan Eropa yang baru pulang dari melanglang buana.