Tuesday, March 20, 2007

DI SEPANJANG PANTAI ALGAVRE











Keputusan kami untuk menelusuri pantai Algavre di Portugis sebelah Selatan sebenarnya merupakan keputusan yang mendadak. Berawal dari rasa ingin tahu, berhubung sebagai warga Indonesia, saya penasaran dengan negara yang pernah melarang pemegang paspor RI masuk ke wilayahnya hingga tahun 2002 lalu. Kebetulan kami tengah berada di kota kecil di dekat Cadiz di Spanyol, hanya 219 kilometer lagi hingga menuju ke perbatasan Portugal.
Ketika itu di bulan Agustus, cuaca panas, temperatur tinggi hingga mencapai 40 derajat celcius. Perjalanan menelusuri jalan tol A 49 ke arah Timur berjalan lancar, jalanan sepi, dan mulus dan angin bertiup kencang menerpa wajah dari jendela mobil yang sengaja kami buka. Dua kota penting di perbatasan Spanyol-Portugal yang kami lewati, yaitu Huelva dan Ayamonte. Huelva terkenal denga cagar alam Donyana yang seluas 188 000 hektar dan menyimpan ratusan jenis burung di dalamnya, di kota ini pula Colombus berangkat meninggalkan Eropa untuk menemukan benua Amerika. Kota Ayamonte terletak tepat di tepi kanal yang memisahkan Spanyol dengan Portugal, kota ini sangat khas kota pelabuhan, dengan rumah-rumah tua yang tinggi, dermaga-dermaga kecil di tepian kanal dan perahu yang berlalu-lalang antara Spanyol dan Portugal. Dari Ayamonte, kita dapat melihat kehidupan di kota Vila Real de santo Antonio di Portugal yang letaknya berseberangan dengan Ayamonte. Sebetulnya ada dua kemungkinan menuju Portugis dari Spanyol, dengan jalan darat melalui jalan tol A49, atau naik Ferry dari Ayamonte. Berhubung kami ingin segera tiba di Portugis, kami memilih jalan tol yang lebih cepat.
Menjelang mendekati perbatasan, hati sempat dag dig dug. Ini pertamakalinya saya memasuki Portugis, negara yang pernah tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Indonesia selama puluhan tahun. Meski hubungan diplomatik kedua negara telah dibuka 2 tahun lalu, tetap saja saya kurang yakin apakah tidak akan ada kerepotan di pos perbatasan kelak? Semakin dekat, semakin resah, apalagi saya yang menyetir mobil. Lalu tampaklah pos polisi penjagaan di ujung jembatan yang panjang, kosong. Tidak ada pemeriksaan paspor, aku pun menghebuskan nafas lega, kini telah menginjakkan kaki di Portugis dan menghirup udara di negara yg akan menjadi tuan rumah sepakbola Liga Eropa 2004!
Tujuan utama kami adalah kota-kota kecil di sepanjang pantai Algavre, pantai yang memanjang dari ujung barat ke ujung Timur di Selatan Portugis, yang terkenal sebagai wilayah sasaran turis paling populer. Kota paling Timur di pantai Algavre adalah Tavira, kota kecil yang lebih dikenal karena adanya cagar alam yang besar yang menyaingi cagar alam di Huelva di Spanyol. Sepintas tidak ada beda besar antara Portugis dengan Spanyol, bahasa mereka mirip satu dengan lain, bangunan-bangunannya pun mirip, jalanan di Portugis pada bulan Agustus tampak lebih gersang dari di Spanyol dan banyak rumah-rumah bercat warna putih bagaikan rumah-rumah di Spanyol Selatan. Dari Tavira perjalanan dilanjutkan ke Faro, kota yang lebih besar di mana terdapat kota yang modern, bangunan-bangunan apartemen bertingkat, hotel berbintang, pelabuhan modern. Faro adalah salah satu kota pantai tempat di mana orang tinggal, bekerja, namun juga tempat turis berlibur untuk menikmati keindahan pantai Algavre. Lebih ke arah timur, kota Albufeira menawarkan obyek wisata yang lebih menarik, kota ini bukan kota Industri seperti Faro, tetapi lebih mengarah ke kota pantai untuk berlibur. Namun kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Portimao, kota nelayan yang terletak tidak jauh dari Lagos, dan sudah mengarah lebih ke arah Barat dari ujung pantai Algavre.
Portimao, membuat saya jatuh cinta.
Portimao adalah kota nelayan terbesar di sebelah barat pantai Algavre, atau dikenal juga dengan nama Barlavento dan semenjak dulu memiliki hubungan yang kuat dengan lautan dan sungai Arade. Pantai ini tidak hanya menyajikan pemandangan yang luar biasa bagusnya, tetapi juga semenjak ratusan tahun menjadi pelabuhan yang nyaman bagi pelaut-pelaut dari seluruh Mediterania. Bangsa Yunani dan Cartaginia, konon, secara teratur mengunjungi pantai Algavre dan meninggalkan tanda-tanda atas kehadiran mereka di sini,berupa pengaruh arsitektur, makanan dan gaya hidup. Sangatlah menarik untuk memulai perjalanan kita dari Portimao dengan menjelajahi wilayah bagian bersejarah di kota itu tempat rumah-rumah dengan gaya facade art-noveau berjejer. Jalanan seperti Rua Nova, Rua do Postigo dos Fumeiros dan Rua do Capote atau sebuah lapangan yang disebut dengan Largo da Barca, bisa dinikmati di kota tua Portimao. Pada bulan Agustus yang panas, tepat paling hijau dan nyaman untuk sekedar berleha-leha melepas lelah adalah taman the Viscount of Bivar Gardens atau di lapangan Manuel Teixeira Gomes Square. Nama lapangan tempat kaum muda berkongkow ini diambil dari nama seorang penulis Portugis, yang kemudian menjadi presiden Portugis. Selain itu, ada taman bernama The 1st of December, yang terletak di dekat kantor walikota yang lama, memiliki pagar yang dihiasi porselen berwarna biru dan putih yang merupakan tipikal warna porselen di Portugis.
Kami pergi menuju bagian khusus pejalan kaki, yang dihiasi oleh cafe di sepanjang jalan, dan toko-toko yang berjejer memanjang di sepanjang sungai. Toko-toko modern tampak berdiri berdampingan dengan toko-toko tradisional, yang menjual kerajinan tangan, khususnya topi, keranjang anyaman, tikar, taplak meja bordiran, keramik, gelas-gelas yang diwarnai dan aneka porselen. Tidak jauh, ada pelabuhan cantik, yang memiliki wilayah pertokoannya yang megah, dan tampak puluhan perahu yachts dan perahu motor boat dari seluruh duania ditambatkan di pelabuhan. Setelah itu, kami pun tiba di tepian pantai dengan pasir yang putih, Praria de Rocha. Ini adalah salah satu pantai tercantik di Eropa. Pada malam hari, promenade di sekitar pantai berubah menjadi daerah yang menyajikan kehidupan malam yang meriah hingga dini hari. Panggung-panggung terbuka menyajikan pertunjukan musik tradisional, stand-stand penjual souvenir dan makanan, dan turis yang tumpah memenuhi promenade adalah pemandangan yg umum di kota di tepi pantai Algavre ini.
Jika kita melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai hingga melewati batu.batu karang, kita akan tiba di pantai berwarna emas dengan air yang tenang, dan lalu kita tiba di Alvor. Alvor adalah kota nelayan tua yang berdiri pada jaman penjajahan Roma dan bangsa Arab di Portugis. Kota ini sekarang menjadi salah satu daerah turis terbesar di pantai Algavre. Di sini juga terdapat cagar alam yangmelindungi berbagai jenis burung langka. Selain itu juga ada reruntuhan puing Istana Alcalar, yang terletak di dekat Abicada, kota bergaya Romawi yang telah berusia ratusan tahun
Tidak jauh dari Portimao, juga ada Mexilhoeira Grande, sebuah desa cantik yang sangat ideal bagi pecinta gastronomi, karena di sini, kita dapat menikmati masakan khas Algavre. Rumah makan-rumah makan di desa kecil ini terkenal dengan makanan tradisional setempat, seperti, ikan goreng yang disajikan dengan kacang kapri, jagung dan sosis. Atau kerang panggang, sup ayam kacang kapri dan yang tidak kalah lezat, ervillas a portimonese sejenis sayur kacang kapri yang dimasak a la Portimao. ikan sarden panggang di atas api arang, gurita, sup udang da nasi. Sebagai minumannya, ine Lokal merupakan pendamping paling ideal, rasanya manis seperti buah anggur asli karena pengaruh matahari yang panas yang membuat anggur di Portamao lebih hangat dan cepat matang.
Dalam perjalanan pulang meninggalkan Portugal, kami mampir sebentar di lagos, berdiri di puncak bukit karang di tepi pantai, memandang ke kejauhan guna mencari ujung daratan Portugis yang merupakan akhir dari benua Eropa di sebelah Barat. Lalu perjalanan menelusuri jalan tol menuju ke arah Spanyol, tempat kami mengawali perjalanan. Kali ini kami memilih menelusuri jalanan kecil yang dekat ke pantai, dan berakhir di Villa del Real de Santo Antonio, kota kecil di tepian kanal yg tepat membelah Portugis dengan Spanyol. Dari Villa Real de Santo Antonio, kami memilih menaiki kapal ferry dan memarkir mobil di anjungan bawah kapal, bersama-sama dengan puluhan mobil lain. Berdiri di atas Ferry yang bergerak menyeberang menuju Ayamonte, kami dapat melihat perlahan namun pasti, daratan Portugis menjauh, demikian juga garis biru jernih yang adalah pantai Algavre.



















Thursday, March 15, 2007

100 TAHUN SALVADOR DALI





Pecinta lukisan beraliran surealisme tahun ini kembali merayakan kejayaan pelukis Salvador Dali, yang memasuki usia ke-100 tahun.

Di Spanyol, negara kelahiran pelukis eksentrik ini, peringatan 100 tahun Salvador Dali dibuka oleh Pangeran Felipe di Barcelona pada bulan Maret lalu, untuk selanjutnya dibuka sepanjang tahun 2004. Perayaan ini diadalkan di kota-kota yang telah memberikan arti penting bagi eksistensi pelukis surealis ini, seperti, Barcelona, Figueres dan Cadaques. Sebagaimana diketahui, Salvador Dali dilahirkan 11 Mei 1904 dari keluarga notaris di Llaner dekat Cadaques, kota kecil di tepi pantai tidak jauh dari Barcelona. Cadaques sangat terkenal sebagai tempat Dali menghabiskan liburan musim panas bersama keluarganya. Meski pada masa kuliahnya Dali juga menghabiskan waktunya antara Paris dan New York, tetapi, dia selalu menghabiskan liburan musim panasnya di Cadaques.
Keindahan kota kecil Cadaques yang terletak 136 kilometer di sebelah Timur kota Barcelona mengarah ke perbatasan Prancis ini, memberikan inspirasi dan kreatifitas yang besar bagi Salvador Dali. Tanggal 23 April 1920, Dali menulis dalam buku hariannya Un diari:1919-1920. Les meves impressions i records intims,“Aku mengenang akan Cadaques dan merasakan sensasi yang besar akan ketenangan, malam hari di musim panas…melukis…malam yang hangat dengan sinar bulan, dengan kerinduan, cinta yang sunyi…refleksi dan langit yang biru, laut dan kebahagiaan!“
Kesan yang mendalam terhadap desa Cadaques dan sekitarnya itulah yang membuat Dali memutuskan untuk membeli rumah di sana. Tahun 1930, Salvador Dali membeli sebuah rumah nelayan untuk dijadikan studionya di Port Lligat, Cadaques. Rumah di Port lligat ini merupakan studio utama dan hingga sekarang dijadikan museum rumah Salvador Dali, di mana kita dapat melihat profil rumah yang unik dengan dekorasi yang sangat individualistis yang dibuat oleh pasangan seniman Dali dan istrinya Gala, selama masa hidup mereka. Di rumah ini, kita tidak hanya disajikan dengan lukisan-lukisan karya Dali, melainkan juga arsitektur rumah yang unik, skluptur berukuran raksasa, sofa dengan bentuk bibir wanita, hiasan patung angsa, meja makan kayu dan tempat lilin dan kolam ikan yang semuanya merupakan desain orisinal seniman multi talenta Salvador Dali. Di rumah yang terletak tepat di tepi pantai ini, pengunjung dapat merasakan nafas kehidupan Salvador Dali, gaya hidup pribadinya dan atmosfir yang memberikan inpirasi kepada seniman surealistik tersebut.
Pecinta Salvador Dali biasanya tidak akan melewatkan kunjungan ke kota Figueres, kota yang lebih besar dari Cadaques tidak jauh dari jalan tol A7 yang mengarah ke Barcelona atau ke arah perbatasan Prancis Selatan. Dengan jumlah penduduk 35000 orang, kota ini merupakan yang terbesar yang berada di perbatasan Spanyol-Prancis. Di kota ini, semenjak tahun 1974, berdiri the Dali Theatre-Museum yang menampilkan karya-karya lukis, sculpture dan instalasi Salvador Dali. Museum di Figueres ini lebih populer dikalangan pecinta Dali ketimbang rumah di Cadaques, meski keduanya letaknya sangat berdekatan. Bisa dikatakan, museum Figueres memiliki koleksi terbanyak dan terlengkap dari karya-karya Salvador Dali semasa hidupnya dari tahun 1904 hingga 1989. Di Museum itu, saya melihat keindahan goresan kuas Dali dalam karya-karyanya yang berjudul antara lain: Port Alguer (1924), The Spectrum af Sex Appeal (1932), Soft Sel- Portrait with Fried Bacon (1941), Poetry from America, the Cosmics Athletes (1943), Galarina (1944-1945), The Bread Basket (1945), Atomic Leda (1949) dan Galatea of the Spheres (1952). Karya-karya Dali mulai dari yang dipengaruhi oleh impresionisme, futurisme, hingga kubisme itu, bisa ditemukan di sana. Ada pula ruang-ruang teater yang menampilkan berbagai instalasi unik dan eksentrik dari Dali. Semuanya ada 22 ruangan yang dapat dikunjungi untuk menikmatikarya-karya lukisan dan instalasi Salvador Dali, yang membuat kita lebih mengenal Dali secara pribadi, lebih dari itu, juga untuk mempelajari perkembangan kreatifitas seniman surealisme terbesar dunia ini. Di lantai bawah tanah Museum Figueres, pengunjung akan dihadapkan kepada sebuah ruang yang gelap dengan hanya diterangi cahaya lilin, di ruang itulah tubuh Salvador Dali dimakamkan, tertanam di dinding berlapis marmer. Kunjungan ke rumah Salvador Dali di Cadaques dan Museum di Figueres merupakan satu keajiban bagi para pecinta seni lukis surealismus, karena melalui kunjungan ini, kita akan mengenal lebih dekat profil seorang Salvador Dali. Seratus Tahun Dali, Seratus Tahun Surealisme!

Ingin berkunjung ke Figueres?Jika ingin berkunjung ke Figueres dan Cadaques, starting point terbaik adalah dari kota Barcelona, karena itu merupakan kota terbesar dan memiliki lapangan terbang internasional yang paling dekat dari Figueres dan Cadaques. Dari Barcelona, jika mengendarai mobi,tinggal mengikuti jalan tol A7 yang mengarah ke Prancis hingga bertemu dengan papan penunjuk jalan bertuliskan Figueres. Alternatif lain dengan mengendarai kendaraan umum seperti bus, atau kereta api, atau yang lebih aman lagi bagi turis yang tidak berbahasa Spanyol atau Catalan, adalah dengan menghubungi travel agent di Barcelona yang menawarkan perjalanan satu haru kunjungan pulang-pergi ke Museum dan rumah Salvador Dali.Artikel Majalah Dewi 2004.







Friday, December 08, 2006

MENELUSURI JEJAK DON QUIJOTE DI TOLEDO DAN CONSUEGRA

Gereja, Mesjid dan Synagoge berdiri berdampingan di Toledo, sementara kota Consuegra bangga dengan jejeran kincir angin tuanya. Tetapi yang paling menarik, kehadiran figur fiktif tokoh Don Quijote di kedua kota di Spanyol yang telah melegenda tersebut.

Kisah Don Quijote barangkali tidak sepopuler kisah Tom Sawyer atau Peter Pan, akan tetapi, Novel Komedi karangan penulis Spanyol Miguel de Cervantes ini sangat populer pada abad ke-16, dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di seluruh dunia, tidak hanya dalam bentuk novel melainkan juga dalam bentuk komik. Petualangan Don Quijote, prajurit kerajaan yang naif tetapi selalu diliputi keberuntungan ini dengan pendampingnya Sancho Pancha, mengambil setting di provinsi Castilla la Mancha, di sebelah Selatan dan Timur kota Madrid, Spanyol. Karena penasaran dengan lokasi tempat Don Quijote dan Sancho Panza bertualang inilah, saya memutuskan untuk mengunjungi dua kota penting di provinsi Castilla la Mancha, yaitu, kota Toledo dan Consuegra.
Perjalanan menuju Toledo yang terletak 71 kilometer di sebelah Selatan kota Madrid sangatlah mengesankan. Pemandangan di kiri kanan berupa lapangan tandus dengan tanah berwarna merah kekuningan, bukit-bukit terjal dan tandus di latar belakang, dan sesekali ditumbuhi tanaman yang berkelompok kecil-kecil dan pendek, sehingga tampak bagaikan savana. Sepintas, pemandangan gersang dan tandus ini, apalagi dengan siraman terik matahari bulan Juli yang mencapai 43 derajat Celcius, mengingatkan kepada gurun sahara atau pun setting film-film cowboy tempo dulu.
Dua ribu tahun telah berlalu semenjak nama Toledo masuk ke dalam sejarah. Seorang sejahrawan Romawi, Titus Livius, yang pertamakali menyebutkan nama Toledo di dalam bukunya. Semenjak itu, banyak yang menulis mengenal Toledo, sebuah kota yang kemudian menjadi tempat pertemuan berbagai ras, peleburan berbagai ideologi dan tempat kelahiran sebuah kebudayaan yang orisinal. Jika dilihat dari atas, Toledo bagaikan sebuah kota tua yang terkurung atau dilindingi tembok tinggi menyerupai banteng, dan dikelilingi oleh sungai Tajo yang mengalir tenang. Sebuah pintu gerbang bernama Bisagra Gate adalah pintu masuk ke dalam Toledo. Bisagra Gate yang kini kita jumpai adalah pintu masuk yang baru, dibagun pada tahun 1550 atas perintah raja Carlos V, sangat megah, dengan bentuk menyerupai dua buah benteng yang berjajar bersisian. Ketika melewati pintu yang berbentuk bagaikan kubah di antara kedua benteng itu, saya berada di sebuah lapangan batu kecil, yang di tengahnya terdapat meriam si jagur dan sebuah patung batu yang merupakan patung dari Santa Eugenio. Meriam si jagur di Toledo ini terkenal melalui kisah Don Quijote, ksatria asal provinsi La Mancha ini yang ibukotanya adalah Toledo, pernah beradu debat dengan meriam si jagur dari Toledo ini. Tidak heran, jika figur tokoh Don Quijote dan asistennya, Sancho Panca, banyak dijual dalam bentuk patung miniatur logam di setiap toko souvenir di Toledo. Selain itu, sebuah patung Don Quijote dan patung Sancho Panca juga dibuat di salah satu sudut kota Toledo.
Tidak jauh dari Bisagra gate, kira-kira 80 meter jaraknya ke sebelah timur, ada pintu gerbang lain bernama Alfonso VI Gate. Pintu gerbang atau gapura inilah yang sebenarnya pintu utama dari Toledo, karena dibangun pada abad ke-10 terbuat dari batu berwarna terakota dengan ukiran bunga. Pintu gerbang ini tampak lebih sederhana dan lebih kecil ketimbang pintu utama yang baru, namun, ini adalah jalan paling efektif untuk memulai perjalanan menelusuri kota tua Toledo, sebab, letaknya tidak jauh dari tempat parkir dan tourist information office, dan kita akan menjumpai eskalator atau pun tangga jalan yang bersisian dengan tangga-tangga batu tua, yang ,membawa kita ke atas puncak bukit tempat kota tua Toledo berada.
Setelah tiba di atas, jalan-jalan kecil dan sempit yang bagaikan terjepit diantara bangunan-bangunan tua yang tinggi, adalah jalur yang sangat romantis untuk ditelusuri sambil menikmati keindahan arsitektur berbagai bangunan yang ada. Menarik untuk dikerahui, kota Toledo terkenal akan pengaruh agama Islam, Kristen, dan kebudayaan Yahudi yang bercampur baur menjadi satu, membantu sebuah kota tua yang sangat toleran.
Jika menelurusi jalan kecil yang berada tepat dibalik tembok benteng kota, kita akan tiba di sebuah bangunan terpenting di kota itu, yaitu, gereja San Juan de Los Reyes. Gereja ini berdiri di lapangan datar di di distrik yang dahulunya merupakan pemukiman Yahudi. Di depan gereja, ada pemandangan lembah-lembah dan rumah-rumah penduduk berdinding batu, dan di seberangnya, tampak sungai Tajo mengalir dengan tenang. Bangunan gereja ini bergaya Gothic dan memiliki biara yang memiliki koridor berlangit-langit tinggi, jendela lebar dan ukiran Gothic yang padat dan cantik. Berjalan ke arah kanan menelusuri jalan-jalan sempit berbatu, kita akan berjumpa dengan bangunan Synagoge Santa Maria la Blanca, yang merupakan bangunan penting di Toledo. Bangunan berarsitektur gaya Timur-Tengah ini dirancang oleh Jusef ben Jossan pada abad ke-12. Ada dua Synagoge yang berada di kota ini.
Bangunan keagamaan lain paling penting adalah Katedral, bukan hanya karena gerej terbesar di Toledo dan salah satu yang mempertahankan gaya Baroque dalam arsitekturnya, melainkan juga karena sebelumnya bangunan ini adalah sebuah Mesjid. Pada masa kejayaan bangsa Arab yang pernah menguasai Spanyol sekitar abad ke-11, di lapangan utama kota Toledo berdiri sebuah Mesjid. Namun, ketika raja Alfonso VI berhasil merebut kembali Toledo pada tahun 1086, mesjid itu pun di kembangkan fungsinya dan ditambah bangunannya menjadi sebuah bangunan Katedral yang besar dan megah. Hingga kini, Katedral menjadi kebanggaan rakyat Toledo, terutama karena kemegahan arsitekturnya yang bergaya Baroque dan Gothic. Di bagian dalam Katedral kita akan dibuat kagum dengan dinding-dinding yang penuh dengan ukiran religus yang detil, rumit dan cantik. Bagian ruangan bernama Transparente, misalnya, adalah bagian dimana kita dapat menikmati lukisan dan ukiran dewa-dewi dan bunda Maria yang berwarna-warni, yang begitu rumit dan sangat artistik. Pemahat sekaligus kardinal Don Diege Astorga, membuat ruang Transparente selama 11 tahun pada abad ke-17! Sebuah kerja panjang dan melelahkan yang menakjubkan.
Selain Gereja, Synagoge dan Mesjid, kota tua Toledo juga memiliki museum, monumen-monumen dan jembatan-jembatan tua yang sangat berharga untuk dikunjungi. Museum terpenting adalah El Greco, sebuah museum dan galeri yang dahulunya merupakan tempat tinggal pelukis terkenal di kota itu yang berasal dari Yunani. Di El Greco kita dapat melihat hasil-hasil karya lukisan El Greco, yang telah melukis banyak tokoh penting dan peristiwa penting di Spanyol pada masa hidupnya.
Bagaimana pun, kehadiran figur fiktif Don Quijote paling kuat dirasakan di bukit Consuegra, sekitar 50 kilometer dari Toledo. Di atas bukit-bukit tandus di Consuegra, berdiri sebelas kincir angin bertembok putih dan beratap cokelat, satu kincir angin di atas satu bukit, berjajar berdampingan, tampak cantik dilihat secara keseluruhan. Kincir-kincir angin inilah yang pernah diterjang oleh Don Quijote, karena dia mengira kincir-kincir angin tersebut adalah jelmaan raksasa. Dengan mobil, kita dapat mendekati jejeran kincir-kincir itu satu persatu, dan memandang hamparan kota Consuegra di kaki bukit. Pada abad ke-16, kincir-kincir angin ini berfungsi sebagai tempat penggilingan gandum. Kini, turis hanya dapat mengunjungi satu kincir angin yang bagian dalamnya dijadikan kantor tourist information dan bagian atasnya tetap terpelihara, guna menunjukkan proses kerja mesin kincir angin tua itu. Sementara bangunan kincir angin lainnya hanya dapat dinikmati dari luar, sebagian tampak tua dan agak rusak. Bulan Oktober permukaan bukit-bukit di Consuegra akan berwarna merah keunguan, dikarenakan panen bunga Saffron atau Crocus Sativus, sejenis sayuran yang banyak digunakan untuk berbagai jenis selada atau makanan lainnya di kota itu semenjak 700 tahun lampau. Kehadiran Don Quijote di sini tampak pada sebuah papan penunjuk jalan sebelum memasuki kota Consuegra, yang bergambar tokoh komik Don Quijote dan Sanchos, menunggang kuda dan keledai mereka, dan dibawahnya bertuliskan: Rute perjalanan Don Quijote.
Mau ke Toledo?
Toledo dapat dicapai baik dengan kereta api, bus atau pun mobil. Tempat parkir terbaik adalah di garasi bawah tanah tepat di depan gerbang utama kota tua Toledo, sebab, di dalam kota tua Toledo jalan-jalannya terlalu sempit dan berbatu-batu, serta sulit mendapatkan tempat parkir. Kereta api dan bus berangkat setiap hari dari kota Madrid, bisa menghubungi Estacion del Sur, tel:+3491 468 4200. Menuju kota Consuegra lebih baik menggunakan mobil, terutama pada musim panas, karena perjalanan mendaki bukit tandus pada cuaca terik kurang menyenangkan. Selain itu, jalan-jalan di bukit-bukit Consuegra cukup lebar dan dapat dilalui dengan mudah oleh kendaraan. Jika ingin menelusuri jejak Don Quijote secara lengkap, yang memasukkan kota-kota lain di provinsi La Mancha, ada juga travel agent di Madrid yang menaarkan paket khusus “Rute Don Quijote”. Bisa dihubungi melalui tourist information di Plaza Mayor di kota Madrid, tel: +34 91 429 4591 atau hubungi travel agencies di Madrid.(Nia Sutiara Kroenert). Majalah Dewi Edisi Januari 2004.





Monday, November 27, 2006

VENESIA, BURANO DAN MURANO. PERJALANAN KE MASA LALU







Museum, galeri, bangunan tua, pabrik gelas, hingga jejeran jemuran pakaian, terlihat cantik dan artistik di kota laguna Venesia dan di pulau-pulau sekitarnya, Burano dan Murano. Perjalanan yang melempar saya ke romantisme dunia masa lalu.

Setiapkali mengunjungi kota Venesia, setiap kali pula saya jatuh cinta kepadanya. Jatuh cinta kepada kanal-kanal sempit dan lebar yang tidak lagi berair jernih, melainkan berwarna hijau kelam, berbau campuran antara asin air laut dengan oli dan bensin yang dikeluarkan dari perahu-perahu boat dan kapal feri yang berlalu-lalang di sepanjang kanal, jatuh cinta kepada bangunan-bangunan tinggi dengan cat dinding yang kusam, dan fondasi bangunan yang terendam air, sebagian berlapis lumut, juga kepada bunyi kecipak air yang menghantam dinding-dinding kanal, diiringi dengan deru mesin dari perahu boat dan feri, atau bunyi kayuh dari dayung perahu-perahu Gondola. Perasaan serupa yang barangkali juga dirasakan oleh jutaan turis yang datang setiap tahunnya ke kota laguna Venesia dan kepulauan di sekitarnya, yang membuat kota dan pulau-pulau kecil di ujung Selatan Italia ini tidak pernah sepi pengunjung.



Menyusuri Kanal Grande di Venesia

Memasuki Venesia, kita harus melalui sebuah jembatan jalan tol sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer yang membelah lautan. Jembatan ini sekaligus juga bagaikan gerbang „selamat datang“ kepada pengunjung kota Venesia, yang telah meninggalkan „daratan Italia“ menuju wilayah kota yang unik yang didominasi oleh air. Perjalanan terakhir bagi pengendara mobil adalah lapangan parkir di Piazzale Roma, sedangkan bagi penumpang kereta api harus berakhir di statsiun kereta api Santa Lucia. Dari sana, satu-satunya alat transportasi umum yang bisa digunakan di dalam kota Venesia hanyalah kendaraan air, entah itu kapal feri khusus penumpang berukuran kecil yang di beri nama Bus, perahu boat yang disebut Taxi, atau pun perahu Gondola yang dikayuh secara manual oleh pendayung berseragam kaos loreng-loreng hitam putih yang barangkali bisa disejajarkan dengan kendaraan seperti Becak atau pun Rickshaw di negara-negara Asia. Kanal terbesar yang membelah kota Venesia menjadi dua adalah Canal Grande, sebuah „jalan utama“ yang berawal dari depan statsiun kereta api hingga alun-alun terbesar bernama Piazza San Marco, yang terletak di tepi laut Adria. Canal Grande ini sangat terkenal karena di kedua tepinya, berjajar aneka bangunan paling indah, paling bersejarah dan paling penting di Venesia, yang merupakan higlightnya kota laguna tersebut. Hanya „Bus“ nomor 1 dan nomor 82 yang memiliki jalur membelah Canal Grande, dan karenanya, merupakan bus-bus denga rute paling diincar oleh para turis.Jika beruntung, kita bisa mendapatkan tempat duduk di anjungan kapal atau pun di kursi di dekat jendela, sehingga memiliki pemandangan yang leluasa ke arah tepian kanal Grande. Dan ketika kapal mulai bergerak, dimulailah sebuah perjalanan ke masa lalu yang sangat romantis. Sebanyak 300 bangunan tua, istana dan gereja, berjajar di kedua sisi kanal sepanjang 3800 meter tersebut, dan membawa kita kepada kejayaan kerajaan Romawi di Venesia pada abad ke-12 dan ke-18 lampau. Paling indah jika kita menyusuri Canal Grande pada dini hari, atau larut malam, ketika jalan-jalan setapak di sisi kedua kanal belum dipenuhi oleh ribuan turis yang membanjiri kota tua itu setiap harinya. Bangunan bersejarah yang bisa dinikmati di sepanjang Canal Grande, antara lain, Istana Ca’d’Oro atau „The Golden House“, yang dibangun pada tahun 1421-1440, dan memiliki tampak muka berlapis Marmer dan Emas dengan arsitektur bergaya Baroque. Tidak jauh dari Ca’d’Oro, di sisi yang berseberangan, tampak pasar ikan Pescheria yang terletak di antara bangunan-bangunan bergaya Neo Gothic, merupakan pasar ikan terbesar dan tertua di Venesia yang masih dipertahankan sampai kini. Tidak jauh dari pasar ikan tersebut, kita akan menjumpai jembatan Ponte di Rialto, sebuah jembatan batu yang dibangun pada abad ke-16. Jembatan ini merupakan bangunan terpenting di Canal Grande, karena dari atas jembatan Rialto, kita dapat menikmati keindahan Canal Grande dengan lebih leluasa. Di sekitar jembatan Rialto juga terdapat pasar souvenir dan butik-butik kecil yang menawarkan berbagai produk khas dari Venesia. Sesudah jembatan Rialto, jembatan penting lainnya di Venesia adalah Ponte dell Accademia, yang terkenal karena letaknya berdekatan dengan dua museum seni penting di kota itu,yaitu: Galleria dell’Accademia yang memiliki koleksi seni lukis klasik dari pelukis-pelukis Italia, dan Collezione Peggy Guggenheim, yang memiliki koleksi seni lukis dan patung berusia ratusan tahun, mulai dari koleksi karya Chagall, Max Ernst hingga Piccaso dan tentu saja, karya-karya Gugenheim sendiri. Perjalanan bus nomor 1 dan 82 di Canal Grande akan berakhir di alun-alun terbesar di Venesia,yaitu, Piazza San Marco. Di sini, kita dapat menemui bangunan Museum dan Gereja serta Istana yang dibangun pada abad 9 dan abad 16, di tengahnya terdapat lapangan sepanjang 175 meter dan seluas 82 meter, yang dulu digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai festival. Tentu saja dengan berakhirnya perjalanan menyusuri Canal Grande ini, tidak berarti perjalanan menikmati kota Venesia berakhir. Puluhan jalan-jalan kecil dan kanal-kanal kecil yang bersambung-sambung dari satu tempat ke tempat lain, sangatlah berharga untuk diekplorasi. Terlebih lagi karena berbagai bangunan penting dan bersejarah di kota ini juga banyak ditemui di pelosok-pelosok dalam kota, di antar a gang-gang yang sempit dan kanal-kanal yang padat oleh perahu-perahu Gondola.

Pulau Murano dan Burano

Jika ingin melihat kehidupan nelayan ikan Italia tradisional, kita bisa mengunjungi pulau Murano dan Burano. Perjalanan bisa ditempuh dengan menggunakan kapal feri atau bus bernomor 52 dari Piazza San Marco. Pulau Murano terletak di sebelah utara Venesia, sebuah pulau kecil yang juga terpilah-pilah oleh kanal-kanal kecil. Bedanya, Di Murano bangunan-bangunannya berukuran kecil, dan tidak terlalu tua. Murano terkenal sebagai pulau pengrajin gelas. Pabrik-pabrik gelas besar dan kecil banyak ditemui di pelosok pulau Murano, biasanya pabrik gelas ini memiliki toko atau showroomnya sendiri-sendiri. Pengunjung yang tertarik untuk menyaksikan demonstrasi pembuatan gelas, bisa dengan cuma-cuma menyaksikan pembuatan gelas di dalam pabrik. Ketika saya dan seorang teman mengunjungi pulau Murano, kami sempat menyaksikan pembuatan patung kuda kecil dari kaca di pabrik gelas tersebut. Seorang ahli gelas memperlihatkan kami kebolehannya memproses kaca, mulai dari masih berbentuk serbuk putih, pembakaran, pengukiran dan pendinginan. Dalam waktu sekitar 5 menit, dan...wow! terbentuklah sekor kuda kaca dengan buntut yang panjang ! Pengunjung pun bertepuk tangan mengagumi keahlian pandai gelas tersebut. Di berbagai toko dan showroom yang berjajar di sepanjang kanal-kanal kecil yang terdapat di pulau itu, kita bisa menyaksikan keindahan berbagai produk dari pabrik-pabrik gelas di Murano. Mulai dari lampu-lampu susun mewah, berbagai bentuk patung hiasan entah yang terbuat dari gelas transparan mau pun yang berwarna-warni, hingga hiasan-hiasan kecil seperti hiasan berbetuk permen berwarna-warni yang menggemaskan.
Sekitar 3 jam perjalanan dengan menggunakan kapal feri, kita akan tiba di pulau Burano. Pulau ini terkenal karena bangunan-bangunannya yang dicat berwarna-warni, dan kerap menghiasi kartu pos serta buku-buku pemandu wisata. Burano sesungguhnya adalah sebuah perkampungan nelayan ikan yang dibangun pada abad ke13. Ada sebanyak 5000 orang penduduk yang hidup di pulau kecil ini, yang juga memiliki kanal-kanal kecil dan panjang di dalamnya. Keindahan pulau ini terbentuk dari cat bangunan rumah penduduk yang berwarna-warni, dengan paduan warna yang kontras satu dengan yang lainnya: biru terang, hijau gelap, oranye, kuning menyala, merah tua...belum lagi jika bangunan-bangunan itu berjajar di sepanjang tepian kanal, dan permukaan air kanal memantulkan warna-warna cantik bangunan-bangunan tersebut...cantik sekali. Tidak heran jika ribuanan pelukis dan fotografer dari seluruh dunia banyak yang sudah mengabadikan keindahan pulau Burano itu. Hingga hari ini, tidak jarang kita akan menjumpai pelukis yang duduk di anak-anak tangga di tepi kanal, atau di kaki jembatan, mengabadikan keindahan warna rumah-rumah nelayan ikan di Burano tersebut. Selain warna cat yang berwarna-warni, bangunan-bangunan di Burano berukuran kecil, meski memiliki 2 sampai tiga lantai. Jendela-jendelanya dihiasi pot-pot bunga atau pun tirai dengan motif yang berani. Di Burano, bahkan jejeran jemuran pakaian penduduk pun terlihat bagaikan parade senirupa yang artistik! Kaum perempuan di pulau Burano memilih membordir sebagai kerajinan tangannya. Toko-toko yang menjual kain-kain bordir dari katun dengan motif tradisional, banyak ditemui di pulau Burano. Hampir di setiap toko bordir tersebut, kita akan melihat seorang wanita tua tengah membordir dengan tangan, sebagai salah satu demonstrasi pembuatan seni bordir yang memikat.
Venesia dan pulau-pulau di sekitarnya memang tempat yang patut di kunjungi jika kita berada di Italia. Karena di kota laguna tersebut, kita diajak masuk kepada kehidupan ratusan tahun yang lampau, yang suatu saat akan punah sama sekali, terendam oleh bahaya air laut yang pasang dan erosi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Setiap kali meninggalkan kota di tepi laut Adria tersebut, setiap kali pula saya berkata, Venesia, I‘ll be back soon! Nia Sutiara Kroenert. Majalah Dewi Edisi November 2002.

Saturday, November 25, 2006

TARIAN MAUT MATADOR


Pertunjukkan Matador dinilai brutal karena selalu diakhiri dengan banjir darah, Tapi ini salah satu cara pria Spanyol memikat wanita.

Sengatan udara panas di bulan Juli di kota Madrid rupanya bukan penghalang bagi pecinta Matador untuk datang ke Corrida, stadion bundar yang dijadikan arena pertunjukkan Matador yang banyak terdapat di seluruh kota di Spanyol. Sepintas, Corrida mengingatkan kita kepada stadion olah raga pada umumnya, berbentuk bundar, jejeran bangku-bangku yang melingkar dan bertahap, serta dibagi ke dalam beberapa blok sesuai dengan pintu masuk yang ada. Bedanya, di sekeliling lapangan tanah merah yang menjadi arena Matador, juga ada jalur melingkar dan pintu-pintu sempit yang digunakan untuk asisten Matador keluar masuk dan lari menghindar dari kejaran banteng. Juga ada pintu khusus untuk keluar-masuk si banteng atau El Torro.
Pertunjukkan dimulai dengan upacara pembukaan, berupa perkenalan para Matador dan asisten Matador atau Novelierro yang akan bertanding ke dalam arena, masuk dengan iringan musik yang dimainkan oleh sebuah kelompok orkestra. Selain Matador dan Novelierro, pertunjukkan juga dilengkapi dengan dua orang matador berkuda yang bertugas bersama-sama dengan para Novelierro, menolong sang Matador dengan cara mengalihkan perhatian sang banteng. Para Matador yang umumnya tampan dan langsing itu, tampil dengan mengenakan pakaian berwarna-warni cerah, dengan sulaman emas, celana pantalon ketat, stocking, sepatu ballerina dan topi atau muletta warna hitam. Posisi tubuh mereka selalu tegak, wajah menatap ke atas dengan dagu sedikit diangkat, mengingatkan saya kepada posisi tubuh penari Tango atau penari balet. Tidak heran jika banyak wanita tergila-gila kepada para Matador tersebut. Sorak sorai penonton pun menyambut kedatangan para Matador tampan tersebut, Ole! Ole!, teriakan tanpa makna itu kerap terdengar di sepanjang pertunjukkan yang berlangsung selama 2 jam itu. Jika pertunjukkan dinilai bagus, Matador akan mendapatkan lemparan topi dari kaum lelaki, dan lemparan bunga dan sapu tangan dari kaum wanita, diiringi dengan applaus atau pun standing ovation. Nama Matador terpopuler saat ini seperti El Fandi, El Julio dan Enrique Ponce menjamin pertunjukkan yang memuaskan, dan karenanya, stadion Corrida akan selalu penuh dan harga tiket melambung tinggi, serupa dengan pertunjukkan konser musik grup band terkenal saja!
Berbeda dengan tari Flamenco, salah satu kebudayaan Spanyol, yang identik dengan dunia wanita yang feminin, pertunjukan Matador lebih identik dengan dunia laki-laki karena mengandung karakternya yang macho, wild, berani, brutal, meski sesungguhnya tetap memiliki nilai-nilai seni yang feminin melalui gerakan-gerakan artistik yang ditampilkan seorang Matador ketika bertanding menghadapi seekor banteng liar. Sejauh ini, tercatat baru ada satu Matador wanita, Christina Sanchez, yang telah mencatat sejarah di dunia olah raga berdarah ini, dan telah lama memutuskan untuk pensiun.
Matador sesungguhnya adalah perkawinan antara seni olah raga gerak tubuh yang mengandung nilai-nilai artistik, seperti gimnastik, dengan pertandingan adu nyawa ala gladiator karena harus berakhir dengan pembunuhan banteng. Menjagal banteng liar dengan seni gerak tubuh dan pertunjukkan yang cantik, demikian barangkali pernyataan yang tepat untuk menggambarkan pertunjukan Matador. Sejauh ini, masih ada pro dan kontra antara para aktifis penyayang binatang dengan mereka yang ingin melestarikan kebudayaan Matador. Mereka yang kontra menganggap pertunjukkan itu tidak lebih dari sekedar pembantaian hewan di depan ribuan mata manusia, sedang mereka yang mendukung menilai ini adalah cara terbaik bagi seekor hewan untuk dijagal, karena tidak hanya sekedar masuk ke dalam mesin penjagalan, melainkan, to die in honour dalam sebuah pertunjukkan yang megah di arena pertandingan atau Corrida. Kehebatan Matador Spanyol mungkin tidak akan dikenal dunia jika tak ada Fransisco Romero. Lelaki yang hidup di abad ke-17 ini telah berhasil menaikkan pamor dunia Matador. Fransisco Romero lahir di kota Ronda, Spanyol Selatan. Lelaki yang mulanya berprofesi sebagai tukang jagal inilah yang pertamakali memperkenalkan berbagai aturan main yang menjadi dasar peraturan permainan Matador hingga sekarang. Dia pulalah yang menciptakan pedang panjang dan pedang pendek, senjata para Matador untuk membunuh banteng dengan cara paling sportif dan berani. Adalah Romeo pula yang memperkenalkan tarif mahal dalam pertunjukan ini, sehingga atraksi bertarung dengan banteng liar itu seolah menjadi suatu tradisi penting dalam kebudayaan Spanyol.

Musim Matador biasanya dimulai bulan Januari hingga Oktober setiap tahunnya. Pada bulan-bulan itu, sejumlah arena menggelar pertarungan atau Corrida, yang diadakan setiap hari minggu. Khusus pada bulan Juni, di Madrid diadakan pertunjukkan Matador setiap hari, sehubungan dengan perayaan festival keagamaan San Isidro. Satu pertunjukkan memakan waktu 2 jam, terdiri atas 6 pertarungan. Tiket bisa didapat langsung di loket penjualan tiket di arena pertandingan atau Corrida, atau di travel agencies, tourist informations, di hotel-hotel dan loket-loket penjualan tiket di shopping centres. Harga tiket bervariasi tergantung ketenaran nama Matadornya, juga tergantung posisi tempat duduk di arena. Harga paling murah 10 Euro, paling malah bisa mencapai ratusan Euro. Di Madrid, Corrida terbesar berada di Las Ventas yang bisa dicapai dengan subway


Ada tiga tahap yang harus dilalui seorang Matador, sampai seekor banteng liar bisa ditaklukkan. Pertama, mengenali dan menguasai perangai sang banteng atau El Torro, karena melalui pengenalan karakter banteng itulah seorang Matador akan mampu memprediksi gerak-gerik sang banteng yang akan membantunya untuk bergerak menghindar dan memenangkan pertandingan. Tahap kedua adalah menusukkan tombak-tombak di punuk banteng , tusukan dengan tombak-tombak kecil itu dimaksudkan untuk membuat banteng liar itu menjadi gontai dan kekurangan tenaga karena kekurangan darah. Setelah itu matador akan bersiap-siap untuk memasuki tahap terakhir yang disebut dengan faena. Biasanya, sebelum memasuki tahap final itu, Matador akan menghadap ke arah podium kehormatan di mana juri atau presiden Corrida berada dan mengangkat topinya-tanda minta restu.
Pertunjukkan Matador memang mengingatkan kita kepada pertunjukkan gladiator yang telah lama punah. Dan memang, Matador pertamakali diperkenalkan oleh bangsa Romawi yang menjajah Spanyol di Abad pertengahan. Awalnya, atraksi Matador dan gladiator itu hanya dilakukan oleh para prajurit kerajaan dan ditonton oleh kalangan terbatas saja, namun kemudian menjadi hiburan masyarakat umum. Belakangan, para gladiator itu bukan lagi prajurit kerajaan, melainkan juga para budak belian dan orang kebanyakan. Raja Alfonso X lah yang kemudian menyempurnakan pertunjukkan Matador sehingga menjadi lebih profesional. Akan tetapi, tata cara pertarutan permainan itu sendiri baru dikenal setelah masanya Fransisco Romero, bapak dari para Matador. Tidak seperti Matador lama yang menghadapi banteng dengan menunggang kuda, Romero dengan berani menghadang lawan secara berhadapan, sambil melambaikan kain merah sebagai pemancing amarah sang banteng. Lalu pada akhirnya, menghabisi sang banteng dengan menancapkan pisau panjang di punuk hewan tersebut.
Berkat keberaniannya itulah Fransisco Romero mencuat namanya sebagai Matador. Selain membuat aturan main, perlengkapan, batas waktu permainan yang dibatasi 30 menit untuk setiap pertarungan dan maksimal enam pertarungan salam satu hari, Romero juga mendirikan sekolah khusus bagi calon Matador. Keluarga Romero pun dikenal sebagai dinasti Matador modern. Di antara para penerusnya, yang paling masyur adalah Juan Romero. Bersama keempat anak lelakinya, Juan sangat terkenal karena reputasinya sebagai Matador tidak pernah tertandingi oleh siapa pun. Yang tragis, tiga orang putranya tewas di arena Corrida. Hanya satu puteranya yang berhasil selamat, dia adalah Pedro Romero, anak kedua Juan Romero. Di usia 8 tahun, Pedro yang lahir pada tahun 1755, sudah turun ke arena. Sewaktu tampil bersama ayahnya, dia berhasil membunuh empat dari enam banteng dalam satu pertandingan di Corrida.Di kota Ronda, kota kelahirannya, Pedro Romero mencatat rekor karena dalam hidupnya telah menewaskan 6000 ekor banteng.
Melihat para Matador ganteng bergerak meliuk, meloncat dan berkelit di arena Corrida memang merupakan daya tarik tersendiri. Keberanian para lelaki muda itu bertarung menghadapi seekor banteng liar, menunjukkan keperkasaannya sebagai seorang lelaki, sebuah nilai yang meski di jaman modern bukan satu-satunya hal terpenting dalam menilai kualitas seorang pria, namun tetap ada yang mencarinya.Anda mau jadi Matador? Ole! .( Nia Sutiara Kroenert ) Majalah Dewi Edisi 2003.

Thursday, November 23, 2006

MUNICH, KOTA SI SCHIKIMICKI




Ingin menikmati bir di gelas berukuran satu liter? Munich lah tempatnya. Ingin berbincang dengan Boris Becker? Munich lah tempatnya. Tapi mengapa kota ini juga dikenal sebagai kotanya si trendy?

Bagi orang Jerman, kota Munich dikenal sebagai kota tempat tinggalnya kaum schickimicki , yang merupakan kata lain dari kata trendy, akan tetapi, kata schickimicki mempunyai nuansa yang negatif karena berkesan arogan dan‚terlalu banyak menuntut‘. Orang Munich sendiri biasanya akan merasa risih atau enggan jika disebut schickimicki, akan tetapi tidak bisa dielakkan kalau kenyataannya, warga kota Munich umumnya selalu tampak trendy.. Di kota ini, juga banyak tinggal kaum selebritis Jerman, sebut misalnya beberapa nama yang juga dikenal di Indonesia, seperti Boris Becker, penyanyi kulit hitam Lou `Mambo Number 5` Bega; Perancang Mode Jil Sanders dan masih banyak lagi. Kota Munchen juga dikenal sebagai kota kelahiran dan pusatnya produk fashion terkenal Jerman, seperti Etienne Aigner dan MCM. Di sektor Industri, Munich adalah pusat diproduksinya mobil merk BMW dan tidak jauh dari kota itu, juga diproduksi merk mobil mewah lainnya, Audi. Dengan demikian, lengkaplah image kota Munich sebagai kota yang trendy, bukan?


Menelusuri Kota Tua di Mini-Metropolis

Terletak di Jerman bagian Selatan, ibu kota provinsi Bavaria ini merupakan kota ketiga terbesar di Jerman setelah Berlin dan Hamburg. Dengan luas wilayah sebesar 300 kilometer persegi dan jumlah penduduk sebanyak 1,5 juta orang, Munich bisa dikategorikan ke dalam kota metropolitan yang kecil atau Mini Metropolis, apalagi jika di bandingkan dengan kota Jakarta. Sebutan lain buat kota kecil yang cantik ini adalah „Ibu Kota Rahasia Jerman“ atau pun „Metropolis with a heart“. Secara umum, kota Munich bisa dibagi menjadi dua bagian. Bagian Kota Tua atau Old Town, dan bagian kota yang modern. Kota Tua berada di wilayah pusat kota Munich, merupakan bagian paling cantik karena masih memiliki berbagai bangunan dan Monumen berusia ratusan tahun dengan aneka gaya arsitektur abad pertengahan, mulai dari gaya Baroque, Rococo, Gothic hingga Neo classic. Lalu bagian kota yang modern, yang tentunya banyak diisi oleh bangunan-bangunan baru dan modern, mulai dari bangunan perkantoran, shopping centres, stadion olah raga, taman umum, dan tempat-tempat hiburan lainnya.

Jika kita ingin menjelajahi kota tua Munich, biasanya dianjurkan untuk melakukan start di lapangan Marienplatz, yang secara geografis bisa dikatakan sebagai jantungnya kota tua Munich. Lapangan atau square bernama Marienplatz ini terletak tepat di depan gedung Rathaus atau kantor walikota Munich yang berupa bangunan tua penuh dengan ukiran bergaya Gothic. Lapangan ini selalu ramai oleh pengunjung, bukan hanya karena di sekitarnya juga banyak terdapat pusat-pusat pertokoan, akan tetapi karena gedung tua Rathaus itu memiliki bangunan menara dengan jam raksasa yang unik. Setiap jam 11.00, jam itu akan berdentang kemudian mengalunkan musik yang indah. Selain musik, beberapa patung di menara itu akan bergerak dan „menari“ sesuai dengan irama musik, memperagakan sebuah kisah pertarungan dua orang ksatria yang dilakukan untuk merayakan pernikahan raja Wilhem V dengan putri Renata of Lorraine pada tahun 1568. Pada jam-jam tertentu, para patung penari itu juga akan tampil menarikan beberapa kisah yang ada hubungannya dengan sejarah kota Munich.

Jika kita bergerak dari Marienplatz menuju ke arah Barat, yang merupakan wilayah pedestrian zone, kita akan melewati berbagai jenis pertokoan, shopping centres, restaurant dan cafe di sepanjang sisi kiri dan kanan jalan. Jalan bernama Kaufingerstrasse ini memang merupakan pusat perbelanjaan terbesar di Munich. Pada musim semi dan musim panas, jalan lebar yang tertutup bagi kendaraan bermotor ini, juga akan dipenuhi oleh meja-meja dan kursi-kursi dari restaurant dan cafe yang kebetulan ada di sana. Di ujung Barat jalan,, pada bagian akhir dari pusat perbelanjaan ini, kita akan menemukan sebuah monumen bernama Karlstor. Monumen ini bentuknya bagaikan sebuah benteng yang merupakan pintu gerbang utama jika akan memasuki sebuah kastil atau pun istana di Eropa. Tetapi, fungsi Monumen Karlstor tentunya bukan lagi pintu utama untuk memasuki sebuah istana, melainkan pintu utama untuk masuk ke pusat perbelanjaan di sepanjang jalan Kaufingerstrasse! Uniknya, wilayah kota tua Munich ini „dijaga“ oleh beberapa monumen berupa benteng itu. Selain monumen Karlstor di bagian Barat, di ujung bagian Timur ada monumen Isartor, dan di bagian Selatan pintu gerbangnya adalah monumen Sendlinger Tor. Jika kita kembali ke jantung kota tua Munich di Marienplatz lalu bergerak ke arah Utara, kita akan bertemu lapangan unik lainnya, yaitu, Odeonplatz. Di lapangan ini, ada Monumen besar lengkap dengan dua patung Singa berukuran raksasa. Tidak jauh dari Odeonplatz, ada taman cantik bernama Hofgarten yang dibangun pada abad ke17. Taman ini dibangun dengan pengaruh inspirasi dari gaya Renasaisance Italia atas perintah penguasa setempat bernama Duke Maximillian I. Keunikan taman ini jika dilihat dari atas, akan tampak pembagian taman dengan bentuk kotak-kotak dan sudut tajam dengan berbagai ukuran. Tepat di bagian tengahnya, dibangun monumen berkubah bundar yang memiliki hiasan berupa ornamen berwarna emas dan warna-warna cerah. Monumen itu sendiri berbentuk segi delapan atau Octagonal, dan di puncak kubahnya yang bundar terdapat mahkota berwarna emas. Pada hari-hari yang cerah, bisa kita lihat adanya pengamen memainkan musik klasik atau pun jenis musik opera tepat di ruang bawah monumen itu. Terakhir kali saya melewati taman Hofgarten, saya melihat seorang pengamen mengenakan kostum berupa pakaian tuxedo, dan menyanyi membawakan lagu jenis seriosa dalam bahasa Itali. Suaranya yang keras lantang, terdengar hingga ke seluruh penjuru taman, membuat kesan yang sangat indah bagi pengunjung Hofgarten. Tidak jauh dari Hofgarten,juga terdapat galeri-galeri seni serta cafe. Konon, petenis Boris Becker sering melewatkan sore di cafe di Hofgarten ini sambil bercakap-cakap dengan rekan-rekannya...

Minum Teh Jepang di Bier Garten

Munich juga dikenal sebagai kota penghasil bir yang lezat. Setahun sekali, kota ini mengadakan festival Oktoberfest, yang merupakan tempat ideal bagi para pecinta bir. Di Octoberfest, kita bisa menikmati aneka jenis bir buatan berbagai pabrik bir di Bavaria, dan dijual di dalam gelas khusus berukuran besar, yang bisa memuat 1 liter bir! Tetapi tidak berarti kita harus menunggu sampai bulan Oktober saja untuk bisa menikmati bir dalam suasana yang khas di kota Munich ini. Ada satu tempat bernama Hofbraeuhaus yang terletak di bagian Timur wilayah kota tua Munich. Berupa bagngunan tua dengan langit-langit yang tinggi dan memiliki meja-meja kayu panjang, Hofbraeurhaus bukan hanya merupakan pabrik pembuat bir, tetapi juga tempat warga Munich duduk-duduk sambil menikmati bir langsung dari tongnya. Pabrik bir ini dibangun pada tahun 1591 seiring dengan adanya larangan import bir oleh penguasa waktu itu, Duke Wilhelm V. Mulanya hanya kalangan bangsawan dan orang-orang tertentu sajalah yang bis amenikmati bir di gedung ini, baru pada tahun 1830, warga masyarakat biasa bisa turut menikmati minuman yang paling digemari di Jerman ini di Hofbraeurhaus.Tercatat, sebanyak 10 000 liter bir terjual setiap harinya di sini!
Di Munich juga terkenal dengan banyaknya tempat-tempat berupa lapangan terbuka untuk duduk-duduk sambil menikmati bir, atau disebut dengan bier garten. Bisa dikatakan, hampir semua restoran besar dan Guest House di kota ini mempunyai halaman terbuka di bagian belakangnya lengkap dengan meja-meja kayu panjang dan kursi-kursi kayu panjang ini. Pada musim panas, bier garten biasanya selalu penuh oleh pengunjung. Salah-satu bier garten paling terkenal dan terbesar di kota ini terdapat di sebuah park yang luas bernama Englischer Garten.
Englischer Garten merupakan taman paling terkenal di Munich, bahkan di seluruh Jerman. Para turis yang datang ke kota ini, umumnya akan „mewajibkan dirinya“ untuk mengunjungi taman seluas 900 hektar yang berlokasi di distrik Utara kota Munich, Schwabing. Schwabing merupakan satu distrik di Munich yang terkenal akan banyaknya ditemukan cafe, restaurant, berbagai kelab malam, dan berbagai toko dan butik. Distrik ini tidak termasuk ke bagian kota tua Munich, melainkan, wilayah baru yang sengaja dikembangkan pada awal abad ke-19 . Englischer Garten sendiri dibangun antara tahun 1789 hingga tahun 1808 atas rancangan seorang arsitek terkenal pada masa itu, bernama Sckell. Taman ini di bangun dengan filosofi khusus, yaitu, bukan hanya sebagai sarana rekreasi tetapi juga digunakan bagi kepentingan penelitian agrikultural, serta pendidikan. Di taman ini, dibangun beberapa proyek percontohan untuk kebutuhan pertanian, sekolah dokter hewan, tempat penelitian tanaman dan pepohonan dan berbagai fasilitas lainnya, termasik berbagai monumen penting. Taman ini dibelah oleh sungai Isar di sebelah Timur, dibelah-belah oleh sungai-sungai kecil di bagian dalamnya, dan dihiasi oleh sebuah danau yang besar yang ditengahnya terdapat pulau kecil, tempat tinggal ratusan angsa dan bebek yang berwarna-warni. Tepat di tepi sungai, ada restaurant seehaus dan bier garten yang menyediakan kursi-kursi di tempat terbuka hingga ke tepi danau.
Ada dua monumen penting di Englischer Garten yang meperlihatkan adanya perhatian khusus pemerintah kota Munich dengan kebudayaan Asia, yaitu, dengan dibangunnya Japanese Teahouse, yang berupa sebuah bangunan kecil dengan arsitektur khas Jepang. Sesuai dengan namanya, di tempat ini diadakan secara teratur, upacara tradisional minum teh Jepang. Bangunan kecil tapi asri ini dibangun oleh arsitek Jepang Mitsuo Nomura pada tahun 1972. Lalu ada Chinesicher Turm atau Menara Cina yang merupakan sebuah bangunan berbentuk Pagoda dan dibangun pada tahun 1766, di Chinesicher Turm ini terdapat bier garten yang luas, yang pada cuaca cerah biasanya menampilkan pertunjukkan musik yang dimainkan oleh satu kelompok orkestra lengkap, membawakan lagur-lagu rakyat Jerman, lagu berirama dixie, hingga lagu–lagu pop yang sedang hits di Jerman.
Lalu ke mana gerangan si schickimicki biasanya berbelanja, atau sekedar duduk-duduk menikmati matahari senja sambil menikmati secangkir capuccino? Di Munich, ada satu jalan yang terkenal karena merupakan tempat butik-butik mewah berada, yaitu jalan Maximillianstr. Di sinilah kita bisa menemukan butik-butik milik Gucci, Salvatore Ferragamo, Christian Dior, Louis Vutton, Channel, Laura Ashley dan sebagainya. Sudah bukan pemandangan yang aneh lagi jika kita melihat kaum wanita dengan mantel bulu, atau lelaki dengan mengendarai mobil Ferrari dan Porche berseliweran di jalan ini. Di Maximillianstrasse juga ada beberapa Cafe yang biasanya penuh oleh pengunjung dengan penampilan yang chic, akan tetapi, sebenarnya harga makanan dan minuman di sini tidak terlalu mahal, tidak jauh beda dengan harga di cafe-cafe di bagian lain di kota Munich. Wilayah yang chic di kota Munich ini akan berada di sepanjang jalan Maximillianstrasse hingga ke lapangan Max-Joseph-Platz dan Odeon Platz. Di dekat Max-Joseph-Platz bisa ditemukan butik Aigner dan Burrberry. Sedangkan di dekat Odeon Platz terdapat butik milik Versace dan Prada.
Bagi mereka yang lebih tertarik dengan hal-hal yang berbau kultur, di daerah chic ini juga bisa ditemukan beberapa Museum. Mulai dari Museum Etnologi, yang menyimpan berbagai koleksi kebudayaan dari berbagai etnik di seluruh dunia, Museum yang khusus menyimpan berbagai koleksi dari Mesir atau Staatliche Sammlung Ägyptischer Kunst, hingga Museum khusus mainan dan boneka atau Spielzeug Museum.
Lepas dari julukan kotanya si schickimicki, Munich merupakan kota kecil yang bersih, cantik dan memiliki karakter yang berbeda jika dibandingkan dengan berbagai kota Metropolitan lainnya di dunia.( Nia Sutiara Kroenert) Majalah Dewi Edisi Maret 2002.

Wednesday, November 22, 2006

MUSEUM ETNOLOGI MUNICH





Sejak ratusan tahun lampau, koleksi benda-benda suku Gayo dan Alas dibawa dan dikumpulkan di Museum Etnologi Munich. Kini, museum tersebut dikenal sebagai museum yang memiliki koleksi benda-benda kebudayaan suku Gayo dan Alas terlengkap di dunia. Museum Etnologi Munich yang terletak di jalan Maximillianstrasse ini, adalah Museum Etnologi kedua terbesar di Jerman, setelah museum serupa yang berada di kota Berlin. Sesuai dengan namanya, museum ini merupakan tempat dikumpulkannya berbagai koleksi kebudayaan yang berasal dari berbagai etnik dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Pada mulanya, berbagai koleksi yang ada di museum ini merupakan harta karun dari raja-raja Bavaria, Jerman Selatan. Harta karun itu sebagian besar merupakan pemberian hadiah dari para bangsawan Eropa yang baru pulang dari melanglang buana.
Pada tahun 1856, didirikanlah Museum Etnologi atau Staatliches Museum für Volkerkunde. Akan tetapi baru pada tahun 1926, museum ini benar-benar berfungsi sebagai Museum Etnologi. Berbagai koleksi yang istimewa dibawa sendiri oleh pada kolektor benda-benda kebudayaan dari berbagai penjuru dunia ke museum yang megah ini, diantaranya, koleksi milik James Cook, penemu kepulauan Cook di Australia, atau pun koleksi benda-benda kebudayaan yang dikumpulkan dari penjelajahan ke Alaska, Siberia, hingga ke negara-negara di Pasifik Selatan dan Rusia. Koleksi benda-benda kebudayaan dari hutan Amazon, misalnya, dibawa oleh dua ilmuwan Muenchen bernama Spix dan Martius, atau kekayaan kebudayaan dari Himalaya dibawa oleh petualang Schlagintweut bersaudara. Sedangkan kekayaan budaya dari Amerika Selatan dikumpulkan dan dibawa oleh Putri Theresia dari Bavaria. Koleksi di museum itu pun sedikit demi sedikit diperkaya oleh berbagai sumbangan para kolektor, entah itu koleksi dari para bangsawan Eropa seperti dari Maximilian von Leuchtenberg, misalnya, atau pun dari para ahli etnologi dari seluruh penjuru dunia. Hingga hari ini, tercatat kalau koleksi di Museum Etnologi Muenchen ini telah mencapai sekitar 300 0000 obyek yang meliputi berbagai koleksi dari Afrika, dari Amerika Selatan dan Amerika Tengah, serta dari Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Tidak banyak yang mengetahui, Museum Etnologi Munich ini juga memiliki koleksi kebudayaan dari suku Aceh dan Batak yang paling lengkap di dunia. Beberapa koleksi bahkan sudah berusia ratusan tahun dan sudah tidak bisa lagi ditemukan di tempat asalnya. Koleksi benda-benda kebudayaan dari Indonesia ini dibawa sekitar 130 tahun lampau, dan merupakan hadiah dari seorang bangsawan Belanda bernama Chevalier de Grez, yang dipersembahkan kepada raja Ludwig II yang berkuasa pada waktu itu. Di Jerman, museum ini dikenal sebagai tempat dikumpulkannya koleksi kebudayaaan Aceh dan Batak, khususnya kebudayaan suku Alas dan Gayo, meski terdapat juga beberapa koleksi dari kebudayaan Jawa Barat. Menurut keterangan Profesor Akifura Iwabuchi, seorang ahli etnologi Jepang yang menspesialisasikan penelitiannya kepada kebudayaan Alas dan Gayo, barang-barang dari suku Alas dan Gayo itu dibawa oleh seorang ahli ilmu bumi Jerman bernama Prof. Wilhelm Volz. Volz yang telah menjelajahi berbagai sudut di Sumatera Utara, khususnya di daerah Batak dan Aceh ini, kemudian mengumpulkan benda-benda kebudayaan seperti peralatan perang tradisional, perhiasan, dan peralatan dapur milik suku Alas dan Gayo. Benda-benda itu sangat tinggi nilainya, karena, menurut profesor Iwabuchi, pada masa sekarang sudah tidak dapat ditemukan lagi di tempat asalnya. „Kalau kita sekarang pergi ke daerahnya, kita tidak bisa lagi menemukan barang-barang serupa itu lagi. Sebab, selama seratus tahun ini, kebudayaan di sana sudah berubah“ kata profesor yang bekerja di Museum Etnologi Munich,“Di Indonesia, ada banyak suku-suku kecil seperti suku Alas dan Gayo yang belum dilaporkan panjang lebar oleh peneliti kebudayaan, sebelum kebudayaannya menghilang, kami, para ahli antropologi, harus mencatat kebudayaan-kebudayaan tersebut, yang nantinya berguna bukan hanya bagi masyarakat Indonesia saja, tetapi juga bagi masyarakat dunia“
Selain koleksi dari suku-suku Alas dan Gayo yang amat langka itu, Museum Etnologi Munich juga tercatat memiliki koleksi kebudayaan dari kepulauan Enggano, yang terletak di propinsi Bengkulu. Ada sekitar sepuluh benda-benda kebudayaan milik suku Enggano, berupa tombak tradisional, topi yang terbuat dari rambut babi, dan sebagainya. Sayang sekali, koleksi dari Indonesia itu disimpan di dalam gudang bawah tanah Museum Etnologi dan pengungjung dilarang melihat atau memotretnya. Barang-barang langka itu baru bisa dinikmati jika memang sedang dipamerkan. Museum Etnologi Munich memang menyelenggarakan pameran benda-benda bersejarah secara berkala, dengan tema sesuai negara asal benda-benda tersebut. Giliran kebudayaan Indonesia, yang diwakili oleh kebudayaan suku Gayo, Alas dan Enggano ini, baru akan dikeluarkan pada beberapa tahun mendatang. Bagaimana pun setelah mendengar bahwa benda-benda berharga bersejarah itu tersimpan rapi di Museum Etnologi Munich, kita dapat menarik nafas lega. Setidaknya, ada warisan nenek moyang kita yang tidak dilupakan dan tidak punah. (Nia Sutiara Kroenert) Majalah Dewi Edisi Mei 2002.